Thursday, 18 March 2021

SOAL PPKN KELAS X SEMESTER GASAL

Assalamualaikum wr wb, bagaimana kabarnya? semoga kita semua dalam keadaan sehat, dijauhkan dari berbagai musibah. kali ini Admin ingin membagikan contoh soal PPKN Kelas X dan dapat didownload dengan mudah dengan sekali klik. Semoga bermanfaat

Keterangan soal :
Jumlah soal pilihan ganda : 50

Pilihlah salah satu jawaban yang dianggap paling benar !

  1. Di bawah ini yang bukan merupakan persyaratan untuk menjadi Warga Negara Indonesia melalui permohonan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 adalah ...

  1. Telah berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin.

  2. Pada waktu mengajukan permohonan sudah bertempat tinggal di wilayah negara Republik Indonesia paling singkat 5 (lima ) tahun berturut-turut atau paling lama 10 (sepuluh puluh) tahun tidak berturut-turut.

  3. Dapat berbahasa Indonesia serta mengakui dasar negara Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

  4. Jika dengan memperoleh Kewarganegaraan Republik Indonesia, tidak menjadi berkewarganegaraan ganda.

  5. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah Warga Negara Indonesia dan ibu warga negara asing.

  1. Di dalam negara yang tingkat pendidikan masyarakatnya relatif belum merata, apabila terdapat kekurangan tenaga ahli dalam bidang pemerintahan, maka kekurangan tenaga ahli disiapkan oleh pemerintah pusat. Hal tersebut dalam praktik kenegaraan merupakan kelebihan negara yang berbentuk....

  1. Federal

  2. Serikat

  3. Monarki

  4. Kesatuan

  5. Negara bagian

  1. Perkembangan penyelenggaran kekuasaan negara di daerah juga terjadi dalam proses pemilihan kepala daerah. Ada tiga sistem pemilihan atau pengangkatan kepala daerah yang pernah berlaku di Indonesia, yaitu penunjukan langsung oleh pemerintah pusat (gubernur ditunjuk dan diangkat oleh presiden, bupati/walikota oleh Menteri Dalam Negeri), dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, pada saat sekarang ini pemilihan kepala daerah dilakukan oleh….

  1. dipilih oleh partai politik

  2. dipilih langsung oleh rakyat

  3. pengangkatan kepala daerah

  4. dipilih oleh pemuka dan tokoh masyarakat

  5. dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

  1. Perhatikan data berikut :

(1). Politik luar negeri, pertahanan, kesehatan, agama

(2). Pertahanan, agama, moneter, politik luar negeri

(3). Perumahan, kesehatan, tata ruang, pertanahan

(4). Kesehatan, agama, politik luar negeri, yusitisi

(5). Agama, moneter, politik luar negeri, keamanan

Berdasarkan data di atas, bidang yang masih menjadi kewenangan pemerintah pusat 

ditunjukkan oleh nomor....

  1. 1 dan 2

  2. 1 dan 3

  3. 1 dan 5

  4. 2 dan 4

  5. 2 dan 5

  1. Konsekuensi logis ketentuan Pasal 18 Ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah adanya pembagian pemerintah antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pemerintah daerah diberi kewenangan untuk menjalankan seluruh urusan pemerintahan di daerah, yang menjadi kewenangan ranah pemerintah daerah, adalah …

  1. eradilan/yustisi,

  2. Politik luar negeri

  3. Kebijakan pendidikan

  4. Pertahanan dan keamanan

  5. Moneter dan fiskal nasional

  1. Pemerintahan daerah merupakan bagian tidak terpisahkan dari sistem pemerintah Republik Indonesia. Kewenangan tersebut dipergunakan untuk mengelola kekuasaan negara dalam rangka mewujudkan tujuan negara, pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan….

  1. asas keterbukaan dan akuntabilitas

  2. asas otonomi dan tugas pembantuan

  3. asaa kepastian hukum dan demokrasi

  4. asas pemerataan dan pembagian kekuasaan

  5. asas keseimbangan dan pembagian keuntungan

  1. Provinsi DKI Jakarta sebagai satuan pemerintahan yang bersifat khusus dalam kedudukannya sebagai Ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia dan sebagai daerah otonom memiliki fungsi dan peran yang penting dalam mendukung penyelenggaraan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berdasarkan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945, DKI Jakarta diberikan kekhususan terkait dengan tugas, hak, kewajiban, dan anggung jawab dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Undang-Undang yang mengatur tentang kekhususan DKI Jakarta adalah....

  1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2001

  2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 tahun 2001

  3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2006

  4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2007

  5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 tahun 2012

  1. Peraturan daerah (Perda) dibentuk dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah provinsi/kabupaten/kota dan tugas pembantuan. Perda merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah. Perda tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Perda ditetapkan oleh daerah setelah mendapat persetujuan dari....

  1. MPR

  2. DPR

  3. DPD

  4. DPRD

  5. Presiden

  1. Negara kesatuan Republik Indonesia menganut asas desentralisasi, maka terdapat kewenangan dan tugas-tugas tertentu yang menjadi urusan pemerintah daerah. Hal ini pada akhirnya menimbulkan.....

  1. Pemerintah pusat tidak memiliki hubungan dengan pemerintahan daerah.

  2. Pemerintah pusat dan pemerintah derah mempunyai kedudukan yang sejajar.

  3. Hubungan kewenangan dan pengawasan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

  4. Kedudukan pemerintah pusat lebih tinggi dibandingkan dengan pemerintah daerah.

  5. Pemerintah pusat dan pemerintah negara bagian mempunyai kedudukan yang berbeda.

  1. Konsekuensi logis ketentuan Pasal 18 Ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah adanya pembagian pemerintah antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pemerintah daerah diberi kewenangan untuk menjalankan seluruh urusan pemerintahan di daerah, yang menjadi kewenangan ranah pemerintah daerah, adalah …

  1. Peradilan/yustisi

  2. Politik luar negeri

  3. Kebijakan pendidikan

  4. Pertahanan dan keamanan

  5. Moneter dan fiskal nasional

  1. Pemerintahan daerah merupakan bagian tidak terpisahkan dari sistem pemerintah Republik Indonesia. Kewenangan tersebut dipergunakan untuk mengelola kekuasaan negara dalam rangka mewujudkan tujuan negara, Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan….

  1. asas otonomi dan tugas pembantuan

  2. asas keterbukaan dan akuntabilitas

  3. asaa kepastian hukum dan demokrasi

  4. asas pemerataan dan pembagian kekuasaan

  5. asas keseimbangan dan pembagian keuntungan

  1. Pada saat ini terdapat berbagai lembaga penegak hukum seperti Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial, Kepolisian, Kejaksaan, dan Komisi Pemberantasan Korupsi. Akan tetapi kasus-kasus pelanggaran hukum masih saja terjadi, bahkan cederung meningkat. Faktor penyebabnya adalah sebagai berikut kecuali ….

  1. Disiplin masyarakat rendah

  2. Kurang tegasnya penegak hukum

  3. Rendahnya kesadaran hukum masyarakat

  4. Banyak liputan media masa tentang kejahatan

  5. Kurangnya contoh dan keteladan dari para pemimpin

  1. Perhatikan data berikut!

(1). Menetapkan Undang-Undang Dasar dan mengubah Undang-Undang Dasar,

(2). Menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara,

(3). Memilih Presiden dan Wakil Presiden,

(4). Menetapkan Undang-Undang Dasar dan/ Perubahan UUD,

(5). Melantik Presiden dan Wakil Presiden,

(6). Memberhentikan Presiden dan/ Wakil Presiden, serta

Berdasarkan data diatas yang merupakan kewenangan Majelis Permusyawaratan Rakyat 

setelah diadakannya Perubahan UUD 1945 ditandai oleh nomor ...

  1. Nomor 1, 2, dan 3

  2. Nomor 3, 4, dan 5

  3. Nomor 2, 4, dan 6

  4. Nomor 3, 4, dan 6

  5. Nomor 4, 5, dan 6

  1. Perhatikan data di bawah ini !

(1). Lembaga Swadaya Masyarakat

(2). Dewan Perwakilan Rakyat

(3). Dewan Perwakilan Daerah

(4). Komisi Pemberantasan Korupsi

(5). Presiden dan Wakil Presiden

(6). Mahkamah Konstitusi

Dari data tersebut di atas yang merupakan lembaga suprastruktur dalam sistim politik 

Indonesia adalah….

  1. 1, 2, 3 dan 4

  2. 1, 3, 4 dan 5

  3. 1, 3, 5 dan 6

  4. 2, 3, 5 dan 6

  5. 3, 4, 5 dan 6

  1. Presiden selaku Kepala Pemerintahan memegang kekuasaan pengelolaan keuangan negara sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan. Ketentuan pasal tersebut menunjukkan bahwa Presiden Republik Indonesia bertanggung jawab atas kegiatan pengelolaan keuangan negara yang dilakukan untuk mencapai tujuan negara, hal tersebut sesuai dengan UU Nomor 17 tahun 2003, ….

  1. Pasal 1 ayat 6

  2. Pasal 2 ayat 6

  3. Pasal 5 ayat 1

  4. Pasal 6 ayat 1

  5. Pasal 6 ayat 2

  1. Keberadaan lembaga-lembaga negara di Indonesia begitu dinamis. Hal tersebut merupakan dampak langsung dari mekanisme pengelolaan kekuasaan negara yang bersifat dinamis pula, setelah reformasi lembaga yang tidak ada dalam struktur kelembagaan negara adalah…

  1. Mahkamah Agung

  2. Dewan Perwakilan Rakyat

  3. Dewan Perwakilan Daerah

  4. Dewan Pertimbangan Agung

  5. Badan Pengawas Keuangan

  1. Peran serta masyarakat dalam sistim politik Indonesia dalam dilakukan dalam berbagai aktivitas, sesuai UU Nomor 9 tahun 1998 sebuah produk hukum yang dikeluarkan awal reformasi di Indonesia di dalamnya terdapat bentuk-bentuk dan tata cara menyampaikan pendapat di muka umum, di bawah ini yang tidak sesuai dengan UU tersebut adalah.…

  1. Rapat umum

  2. Mimbar bebas

  3. Arak-arakan

  4. Unjuk rasa

  5. Pawai

  1. Negara demokrasi (negara yang berkedaulatan rakyat) menjamin hak-hak warga negara serta memberikan kebebasan kepada warga untuk berpendapat dan berpartisipasi dalam penyelenggaraan bernegara. Namun, berdasar pengalaman seringkali terjadi demonstrasi yang berakhir ricuh, pertentangan pendapat yang tajam, dan bahkan mudah terjadi tawuran karena perbedaan. Kebebasan mengemukakan pendapat di Indonesia terdapat dalam....

  1. Pancasila

  2. UUD NRI tahun 1945

  3. Pembukaan UUD NRI tahun 1945

  4. Pasal 28 E ayat (3) UUD NRI tahun 1945

  5. Pasal 30 ayat (1) UUD NRI tahun 1945

  1. Setiap warga negara Indonesia memperoleh kesempatan yang sama untuk menduduki jabatan dalam pemerintahan. Bahkan, pekerja seni atau artis lomba-lomba untuk berpartisipasi dalam memperebutkan kursi di pemerintahan. Hal tersebut mengindikasikan salah satu ciri negara yang menganut sistem demokrasi, yaitu.....

  1. Adanya pemilu berkala

  2. Adanya supermasi hukum

  3. Adanya akuntabilitas politik

  4. Bebas berpendapat, berserikat dan berkumpul

  5. Persamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan

  1. Bagi bangsa Indonesia, pilihan yang tepat dalam menerapkan paham demokrasi adalah dengan menerapkan Demokrasi Pancasila. Paham Demokrasi Pancasila sesuai dengan kepribadian bangsa yang ditandaii dari tata nilai sosial budaya sendiri. Hal ini telah dipraktikkan secara turun temurun jauh sebelum Indonesia merdeka. Kenyataan ini dapat kita lihat pada masyarakat desa yang menerapkan.....

  1. Voting

  2. Kerja sama

  3. Sikap individual

  4. Musyawarah mufakat

  5. Sikap senasib sepenanggungan



kelanjutan dan soal lengkap nya bisa didownload pada link di bawah ini


Wednesday, 17 March 2021

UPACARA ADAT MANTU






Pernikahan utawa palakrama yaiku salah sijine prastawa sakral lan ditindakake karo mayoritas manungsa. Adat mantu iku salah sijine upacara sakral adat Jawa kang nduweni rantaman (urutan) upacara sing urut lan pakem. 

Adata wong jawa, ana sing kudu dilakoni, antarane :
Babak I (Pirembagan)
  1. Congkong/utusan, wong sing diutus karo wong tuwa saka penganten kakung kanggo nengetake status calon penganten putri lan kahanan kluwarga saking calon penganten putri lan ngaanakkae rembugan karo wong tuwa calon penganten putri.
  2. Salar, yaiku acara sing wis disiapake karo keluarga penganten kakaung. Acara iki isine wangsulan (jawaban) saka pandangon-pandangon saka penganten kakung nalika acara congkong.
  3. Nontoni, kluwarga calon penganten kakung dhateng keluarga calon penganten putri kagem mirsani langsung calon penganten putri lan kluwarga penganten putri saged mirsani langsung calon penganten kakung. 
  4. Lamaran, menawa wis nontoni banjur pihak kluwarga kakung lan putri nganakake rembugan babagan dina kang apik kanggo adicara lamaran. Lamaran yaiku nembung kantthi resmi saking sesulih (utusan) kluwarga calon penganten kakung kanggo nyuwum calon penganten putri supados pikanthuk digawa kaliyan calon penganten putra.
            Ubarampe sing diasta nalika lamaran, yaiku:
    • Kalpika : kalpika (cincin) nggambarake menawi calon penganten putri wis dijiret lan wis ana sing nduwe sinaosa durung sah miturut agama lan Negara
    • Alat ibadah : kagem calon penganten sing ngugemi agama islam. Ancase menehi ngeti menawa penganten kakung ugi sagd ngimami babagan agama.
    • Arta : arta ab=ncase kanggo tuku ubarampe calon penganten putri nalika resepsi menika. Ananging ing jaman saiki arta kanggo numbas utawa nebus calon penganten putri.
    • Sepengadek : yaiku ubrampe sing dibutuhake dening calon penganten piutri saka nduwur nganti ngisor (rambut nganti sikil).
    • Patedhan : patedhan sing dimaksud yaiku patedhan tradisional sing rinaket kaya ketan, wajik, lemper,cithak,lsp. ancase supaya calon penganten isa raket nganti saklawase.
    • Papaes : nggambarake kaesenengan saka calon penganten putri, supaya calon penganten putri seneng.Who-wohan : kanggo njangkepi ubarampe sing digawa karo calon penganten putra.

Tuesday, 16 March 2021

NOVEL BAHASA JAWA

Apa kuwi novel? Apa sampeyan wis tau maca novel? Sakdurunge mangerteni babagan novel, prelu mangerteni babagan kasusastran jawa, amarga novel kuwi kalebu salah siji perangan saka kasusastran. Apa kuwi kasusastran?
1. Pangerten Kasusastran
Kasusastran yaiku saka tembung susastra kang pikantuk wuwuhan ka + an. Tembung susastra saka tembung su + sastra, su tegese endah utawa sae, sastra tegese seratan. Dadi tembung susastra tegese seratan kang endah. Wuwuhan ka + an nggadhahi teges perkara kang ana gegayuhane karo seratan kang endah. Kassusastran iku keperang dadi 4 periode, yaiku :
  • Sastra Jawa Kuna : Sastra Jawa kang ana sakdurunge ana pengaruh agama islam.
  • Sastra Jawa Pertengahan : Sastra Jawa kang ana nalika jaman kerajaan Majapahit yaiku antarane wiwit abad 13 tekan abad 16. Ing jaman iki wiwit dikenalake geguritan (puisi Jawa) kang nduweni paugeran/pathokan utawi mentrum Jawa kang diarani kisung.
  • Sastra Jawa Baru : Sastra Jawa kang ana nalika agama islam mlebu ing tanah jawa, yaiku saka tlatah Demak. Ing jaman iki wiwit dikenalake kasusastran kayata serat, suluk, babad. Lsp.

a.

Serat

Kasusastran Jawa kang bentuke tembang macapat lan ngemu piwulang/pitutur luhur babagan gayute manungsa. Tuladha : Serat Wedhatama, Serat Wulangreh, Serat Centhini,  Serat Nitipraja, lsp.

b.

Suluk

Kasusastrasn Jawa kang ngemu pituduh/piwulang/pitutur luhur babagan gayute manungsa lan Gusti Kang Maha Kuwasa. Tuladha : Suluk Wujil, Suluk Linglung, Suluk Malang Sungsang, lsp.

c.

Babad

Kasusastran Jawa kang ngemu crita sawijining papan utawa wong kang misuwur. Tuladha : Babad Prambanan, Babad Tanah Jawi, Babad Diponegoro, lsp.


  • Sastra Jawa Modern : Sastra Jawa kang ana wiwit jaman penjajahan Jawa tekan saiki. Rikala jaman biyen, para tiyang Walanda maringi pangertosan babagan kasusastran barat kayata esai, roman, novel. Fable, legenda, lsp.
  1. Esai : Seratan kang nggambarake sawijining pamanggih babagan sawijining perkawis.
  2. Roman : Kasusastran kang bentuke gancaran (prosa) kang ngadhahi tema kasmaran
  3. Fable : Cerita fiktif kang paragene awujud kewan
  4. Legenda : Kasusastran fiktif kang ngemu crita babagan dumadine sawijining papan
  5. Novel : Kasusastran fiktif kang misuwur, wujude gancaran (prosa) kang dawa.
Pangerten Novel
Novel yaiku kasusatran kang wujude gancaran (prosa) ingkang dawa, ngemu cerita kahuripan manungsa karo wong liya, lan ngegesake watak saha sipat para lakon. Uga bisa disebut menawa novel kuwi ngemu konflik sing maneka warna (kompleks), perkara sing ora bisa ngrubah nasib, mung nyritakake salah siji kahanan manungsa kang manika warna (kompleks).

Unsur-Unsur Novel
Kanggo mbanggun salah siji cerita, novel nduweni unsur-unsur kang ana sesambungane antara siji lan liyane. Unsur-unsur kang mbangun mau kaperang dadi 2 jenis, yaiku unsur intrinsic lan unsur ekstrinsik.
Unsur Intrinsik Novel
  • Tema : gagasan pokok / ide pokok kang dadi undering rembug
  • Alur : rerangkening utawa urutaning crita wiwit lekas nganti pungkasan.
  • Paraga : wong kang nglakoni ana ing lumakune crita, saka paraga iku bisa ngerteni watak lan gagasane.
  • Watak : sikap paraga ana ing njero novel (protagonis lan antagonis)
  • Setiing/latar : papan,swasana dumadine crita
  • Sudut pandang : posisi pangripta/penulis ing crita
  • Amanat : pitutur luhur/ pesen sing arep diwenehke saka penulis kanggo sing maca. Amanat sipate migunani.
Unsur Ektrinsik Novel
  • Biografi penulis lan latar belakang penulis
  • Kisah ing mburi layar
  • Nilai-nilai sing ana ing masyarakat (sosial, ekonomi, agama,lsp.)
Tuladha Pethilan Crita Novel



....................................................................

Ana sawijining nonoman jenengé R. Sukmana umuré 19 taun, murid MULO duwé kanca kenya, jenengé RA. Tien Tisno-wati putri Sala asli, putrané RB. Jayèngsubroto, pènsiyunan Wedana Bayalali. Dalemé ana Kampung Tamtaman, isih da-rahing priyayi luhur turun ningrat. Kenalé R. Sukmana karo RA. Tien Tisnowati wis lawas banget. Mauné kenalé nonoman loro mau ya mung lugu baé. Nanging lawasing lawas, sakaroné banjur padha thukul rasa katresnan. R. Sukmana tresna karo RA. Tien Tisnowati, Tien Tisnowati nimbangi katresnané. Dadi wis jumbuh loro‑loroné padha kadunungan tresna kabèh, ma-lah nganti wis padha prasetya yèn ing tembé buri padha arep urip bebarengan. R. Sukmana bungah banget atiné, duwé pa-cangan RA. Tien Tisnowati mau. Sepisan dhasar isih darahing ngaluhur, rembesing kusuma, turuning wong andara warih. Kapindhoné atèn-atèné becik lembah manah. Kaping teluné kasulistyané RA. Tien Tisnowati tanpa tandhing, pindha golèk kencana. Kaping paté sing baku padha tresnané.

Nanging kahanan kang kaya mengkono mau émané ora bisa langgeng lan kasembadan. Mbokmenawa pancèn wis gi-naris ing alam Loh Ma'ful yèn nonoman loro mau pancèn dudu jodhoné, lan kudu pepisahan jalaran saka drajaté kang ora pa-dha. RA. Tien Tisnowati darahing ngaluhur, R. Sukmana mung wong lumrah, tur anak randha pisan gèk ora duwé. Déné ce-thané mau bareng kapiyarsan déning keng ramané RA. Tien Tisnowati banget dukané lan ora marengaké yèn R. Sukmana ngarah putriné. Malah R. Sukmana nganti diancam, yèn wani-wani mlaku bebarengan, arep dipasrahaké pulisi. Pancèn kanggoné jaman samono, pulisi iku diwedèni banget, padha karo wong yèn weruh memedi. Mula R. Sukmana banjur ora wani ngaton manèh, tansah ngadoh. RA. Tien Tisnowati dhéwé banjur dipingit, ora kena metu‑metu saka gedhongé, yèn ora lagi ndhèrèkaké rama ibuné.
Ya wiwit iku R. Sukmana banjur pisah karo RA. Tien Tis-nowati. Nanging sing pisah mung lairé, batiné padha ora gelem pisah, jiwané tansah sesambungan, awit sakaroné katresnané pancèn murni suci, lan wis kadhung padha ngoyodé, padha seminé, thukul ngrembuyung ing jiwa ragané nonoman saka-roné. Mbok jagaté kiyamat pisan katresnan suci ora bakal mati, tetep isih langgeng urip, kang sawayah‑wayah bakal thukul manèh luwih nggegirisi.


................................................................................................................................


Dening : Suprapta Brata

… Ing sawijining dina, eneng bocah jenenge Pipin. Dheweke nduwe 2 sedulur, jenenge Riris lan manik. Bocah telu kae sakben dinone ora iso akur. Nanging, nek pas bocah telu mau kerengan, ibune mesthi luwih mbela Pipin.
Amarga Pipin kuwi anak kandunge, nanging Riris lan Manik kuwi anak tiri.
Pipin nganakake pesta tanggap warsa cara climen ing omahe. Lagi ramene pesta, ibune menyang semaput. Banjur seda. Banjur Detektip Handaka ditekakake. Dheweke nemokake barang-barang yen sedane ibune Pipin amarga diprejaya. Malah podo ribut amarga melu khawatir. Bar kuwi, Pipin kelingan yen dheweke nduwe sedulur, Riris lan Manik. Detektip Handaka banjur marani boca loro kuwi mau ing ngomahe. Sesok e, pas arep dislidhiki, bocah loro kae malah dolang ing nggone kancane, disetitekake Handaka, sedulur telu Pipin, Riris lan Manik, sajak ora susah ibune seda, malah katon seneng. Saka bukti kuwi mau, Detektip Handaka nyimpulake yen sing mrejayani Bu Sulun kuwi inggih menika anake tiri dewe, Riris lan Manik. Bocah kae mau ngaku, dhwewke mrejayani Bu Sulun amarga ora seneng karo sifate sing mesthi mbela Pipin.
Mbengine, bocah loro kuwi mau dilebokake ing penjara….


UNGGAH-UNGGUH BASA JAWA (NGOKO KRAMA)

Unggah-ungguh basa yaiku tata carane guneman tumrap wong sing diajak guneman. Ing basa Jawa, unggah-ungguh basa kaperang dadi basa ngoko lan basa krama. Basa ngoko kaperang dadi 2, yaiku ngoko lugu lan ngoko alus. Basa krama uga diperang dadi 2, yaiku krama lugu utawa krama madya lan krama alus.

Ngoko Lugu
Titikane : tembunge ngoko kabeh ora ana sing krama.
Basa ngoko lugu dienggo dening :
Wong tuwa marang wong enom
Guru marang murid
Kanca sapadha/sepantaran
Tuladha : Mengko mulih sekolah nggarap PR ning omahku ya.

Ngoko Alus
Titikane : Tembunge kecampuran tembung krama kanggo ngajeni.
Basa ngoko alus dienggo dening :
Sedulur tuwa marang sedulur enom sing luwih dhuwur drajate.
Priyayi marang priyayi sing wis kulina.
Tuladha : Bapak sowan ing daleme simbah wingi sore.

Krama Lugu
Titikane : Tembung sing digunakake yaiku tembung krama madya.
struktur ukara : kasusun saka tembung-tembung krama (ora kacampur tembung krama inggil)
Basa krama madya biasane dienggo dening :
Priyayi marang sedulure tuwa kang luwih cendhek drajate.
Priyayi marang wong cilik (rakyat)
Tuladha : Panjenengan menawi kesah dhateng kantor menapa taksih kiyat mbekta sepedha motor mas?

Krama Alus
Titikane : tembunge krama kabeh ora ana sing ngoko.
Basa krama alus biasane dienggo dening :
Wong enom marang wong tuwa
Murid marang guru
Wong sing lagi kenalan
ater-ater di - dadi dipun
panambang -e, dadi -ipun, aken gumantung ukaranipun
Tuladha : Badhe tindak pundi, Bu?

PAWARTA - BERITA BERBAHASA JAWA

 Pangerten Pawarta

Pawarta yaiku informasi anyar utawa informasi ngenani sawijining prastawa kang dumadi, diwaertakake lumantar wujud cetak, siaran, internet, utawa saka pirembugan marang wong liya. Pawarta duwe titenan (ciri-ciri), yaiku :

  1. Tinemu ing akal (penalaran logis)
  2. Informasi pepak kang jumbuh karo rumus 5W + 1H
  3. Struktur basa kang trep
  4. Diksi kang ora ambigu
  5. Narik kawigaten (persuasive)
  6. Basa kang nengsemake
Perangan Pawarta
Perangan pawarta ing antarane, yaiku :
  1. Headline (judul/irah-irah), Irah-irah pawarta iku gunane kanggo (1) nggampangake pamicara ngerteni pawarta kang bakal diwaca, (2) nuduhake pawarta kang dianggep wigati kanthi werna-werna aksara utawa gambar.
  2. Deadline (batas wektu), Ancas deadline yaiku nuduhake papan kedaadeyan lan jeneng media masa. 
  3. Lead (terasa pawarta), Biasane katulis ing wiwitan pawarta/ing paragraph kapisan. Bab iku tinulis amarga minangka perangan kang wigati saka pawarta kang nemtokake saripati pawarta, lan nggambarake sakabehe pawarta.
  4. Body language (surasa pawarta. Bahasa tubuh), Surasa nyitakake prastawa kang diwartakake kanthi basa kang cekak, aos, lan cetha. Utawa isa disebut pangembang pawarta.
Unsur-unsur pawarta
Pawarta iku ngemot bab 5W1H, yaiku:
  1. What (apa) tegese pawarta iku ngemot prastawa apa?
  2. When (kapan) tegese pawarta iku dumadine kapan?
  3. Who (sapa) tegese sapa wae sing ana ing prastawa iku?
  4. Where (ing ngendi) tegese ing ngendi prastawa iku dumadi?
  5. Why (kenangapa) tegese apa kang njalari prasatawa iku dumadi?
  6. How (kepriye) tegese kepriye urutane crita (alur) dumadine prastawa iku?
Sifat Pawarta
  1. Aktual (anyar). Bab-bab kang anyar luwih becik tinimbang pawarta lawas
  2. Jarak (adoh/cedak). Adoh apa cedake pawarta sing katulis ngaruhi kawigatosan saka pemaos
  3. Penting. Sawijining bab kang bakal dadi pawarta yen dianggep perangan kang penting amarga bisa ngladheni panguripan lan bebrayan agujng.
  4. Akibat. Sawijining bab kang dadi pawarta yen ndadekake ngowahi kahanan.
  5. Congkrah/konflik. Pawarta kudu nduweni konflik sing narik kawigatosan pemaos.
  6. Tintrim (ketegangan)
  7. Kemajuan (inovasi). Pawarta kudu kekinian utawa ngatekake teknologi sing anyar
  8. Emosi. Pawarta katulis lan bisa ndadekake emosi pemaos trenyuh nalika maca
  9. Humor. Pawarta uga isa nduweni sipat sing nyenengake
Nilai Pawarta
Pawarta kudu duwe karakteristik utawa nilai berita. Nilai berita iku digunakake kanggo ngukur sawijining pawarta iku trep diwartakake apa ora. Nilai pawarta (Syamsul M. Romli), yaitu :
  1. Cepet, yaiku aktual lan pas wektune. Pawarta sabisa-bisane ngandharake pawarta kang anyar.
  2. Nyata, yaiku informasi bab sawijining fakta kang dumadi saka kedadeyan nyata.
  3. Penting, yaiku sesambungan karo wong akeh
  4. Menarik, yaiku bisa narik kawigaten para pamiyarsa.

Etika Nulis Pawarta
Objektif
Ing babagan iki panulis ora kena martakake pawarta dikatheni kapentingan pribadhi lan sponsor. Tegese sipate kudu netral ora mihak salah siji. Pawarta kang tinulis adhedhasar fakta utawa data kang sanyatane dumadi.
Cover of side
Pawarta iku kudu imbang aja abot sisih, luwih-luwih nyebutake pihak-pihak kang ana sesambungan langsung karo pawarta.

Teknik Nulis Pawarta (tahap)
  1. Pengorganisasian/nglumpukake fakta utawa data. Data ing kene bisa awujud wawancara (wawan rembug), kedadeyan langsung, utawa data-data tinulis.
  2. Nemtokake teras berita (lead)
  3. Milih tembung-tembung kang jumbuh karo pawarta, nggunakake alur kang runtut aja molak malik utawa dienjah-enjah.dilompati supaya ora mbingungake pamiyarsane.
  4. Ngawiti nulis kanthi jenjen lan temenan.
Tuladha Pawarta
Gelar Sastra Jawa “Generasi Mudha Kudu Wani Nulis”
Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta, ngawe acara gelar sastra jawa kanthi tema “Gurit Mudha Kridhangga”. Acara mau dianakake dina Jemuwah wiwit tabuh 20.00 WIB mapan ing Pandhapa Cilik TBJT. Ana 15 penggurit sing teka ing aca kui. Ora namung maca utawa nulis cerkak lan gurit, adicara iki uga ana sesi dhiskusi bab sastra jawa modern mligine nasib geguritan dening generasi mudha samenika.
Jroning acara iki, ana penggurit-penggurit sing dipuncap penggurit plat merah amargs satemene ora seniman ananging PNS, kaya dene Dimas Dedek Witranto, Palupi Bawono, Esti Suryani, lan sanesipun. “Pancen ora kabeh seniman geguritan dianggep ora aktip nulis. Nanging ing wektu-wektu saiki sajake para seniman gegeuritan, sregep nulis mung ne kana pesenan gawe buku sing diterbitake.” Ujare Gigok Anurogo (47), sawijining panitia adicara iku semu geguyonan.
Kajaba penggurit plat merah, karya-karya geguritan utawa cerkak akeh sing nulis saka kalangan petani lan bakul pasar. Kadadeyan kaya ngono kudu disukuri ananging kudu ana usaha kepriye cerkak lan geguritan isa disenengi karo generasi mudha sakiki. Diskusi mau uga mbedhah kepriye generasi mudha isa nulis karya sastra jawa, mligine geguritan lan cerkak. Miturut Trisna Santosa, sanajan karya geguritan utawi cerkak sipate bebas ananging kudu ngandung syariat, ibadah, lan kaidah, tegese sanajan wose bebas, tetep manut paugeran sopan miturut adat lan agama.
Ananging panyarue saka Trisna Santosa iku akeh sing ora sarujuk, amargs nulis iku sawijining faktor sing ngaruhi yaiku lingkungan. Lingkungan iku isa ngaruh karo basa sing digunakake gawe nulis karya sastra. Panyarue liyane uga diandharake karo Gigok Anurogo. Dhewekke ngandarake menawa karya sastra jawa kudu diuri-uri lan dipunslametake karo generasi mudha. Cara sing manjur yaiku aja wedi anggone nulis, aja wedi nalika nulis, aja wedi nulis tulisan sing ala, lan aja lali anggone maca karya sastra.
Ing akhir dhiskusi, dudutane biih karya satra jawa, mligine gegutritan ing kahanan saiki sipae bebas lan luas. Tegese isa diandharake bebarengan karo cabang seni liyane, kados dene seni tari, seni musik lan liyane, tegese owah gingsire jaman ora isa diselaki uga ngaribawani basa jawa saben generasi. Saengga saben generasi, kudu wani  anggone nulis lan tampil maca geguritan. Jalaran ekspresi sing luas wis dibukak. Saiki gumantung saka generasi mudha dhewe. Apa arep ngubur sastra jawa utawa ndadekake sastra jawa tansaya misuwur. Uga isa dadi kembang lampe penikmat sastra, mliginipe jagad tiyang jawa.
Sakdurunge sesi dhiskusi dipungkasi, 15 penggurit lan spontanitas saking seminar melu tampil maca karyane dhewe utawa karyane wong liya, kaya dene Gigok Anurogo, Dedek Witranto, Mbah Pien Wiyatno,Arsono W, Bambang Jodit, Surya Ngumbara, Supri Catrik Ndesa, Budi Bodot Riyanto, Udyn UPW,Dwi Mustanto,Didik Panji, Palupi Bawono,Ulfa Tursina,Trisno Pelok Santoso, Dhimas Suro Adji, Jantit Sandakala, Yustinus Popo, Esti Suryaani, lan Hardjojo.

Kapethik saka : panjebar semangat no.25- 18 Juni 2016

CERITA CEKAK (CERKAK)

Pangerten Cerita Cekak

Cerita cekak yaiku tuturan bentuk gancaran (prosa) kang ngandharake sawijining prastawa utawa kedadeyan kang nyata utawa fiktif. Cerkak iku dicritakake sepisan rampung, lan wis bisa nuduhake karampungan crita. Mula ing padatan cerkak mung tinulis kanthi cekak lan prasaja. Surasa crita uga mung prasaja, ora mbutuhake cara ngrampungake kang jlimet.
Unsur cerita cekak
  1. Tema yaiku minangka ide pokok utawa masalah sing utama kang ndhasari lumakuning crita.
  2. Latar/setting yaiku minangka latar belakang sing mbantu cethaning laku crita. Setting iku ngemot wektu, papan/panggonan, sosial budaya.
  3. Punjering Crita (sudut pandang)
  4. Alur/plot
  5. Alur yaiku rerangkehing/congkoranganing prastawa/kedadeyan. (alur maju, alur mundur)
  6. Penokohan yaiku iku nggambarake karakter kanggo paraga/palaku.
  7. Konflik
  8. Konflik yaiku perkara kang dadi punjering crita.
Nilai-nilai kang kemot ing sajroning cerkak
  1. Nilai budaya yaiku ana sesambungane karo pamikir, pakulinan, lan asli karya cipta.
  2. Nilai sosial yaiku iku ana sesambungane karo tata laku pasrawungan in antarane pawongan siji lan liyane.
  3. Nilai moral iku ana sesambungane karo tumindak becik lan ala kang minangka dhasar panguripan manungsa lan masarakat.
  4. Nilai religious/keagamaan iku ana sesambungane karo tuntunan agama lan kepercayaan.
  5. Nilai pendidikan/edukasi iku ana sesambungane karo owah-owahan tingkah laku saka ala lan becik
  6. Nilai estetis/keindahan iku ana sesambungane karo bab-bab kang narik kawigaten, kendahan, seni, utawa nyenengake.
  7. Nilai etika iku ana sesambungane karo sopan santun lan subasita ing bebrayan.
  8. Nilai politis iku ana sesambungane karo pamerentah
  9. Nilai kemanusiaan iku ana sesambungane karo sipat-sipat manungsa.
Sinopsis
Sinopsis yaiku ringkesan crita saka alur kang dawa dadi cekak nanging bisa njlentrahake crita sakabehan. Nalika bakal nulis sinopsis, bab-bab kang kudu digatekake yaiku :
  1. Tema : gagasan pokok, pokok crita
  2. Latar : papan lan wektu dumadine crita
  3. Alur : Lakuning crita
  4. Penokohan : paraga crita 
  5. Saka katrangan kasebut banjur bisa digawe sinosis. 
Cara nggawe sinopsis cerkak :
  1. Maca naskah asline kanggo golek gagasan utamane
  2. Nyerat gagasan utama kang penting
  3. Nrantam (nyusun) maneh gagasan utama dadi paragraph
  4. Dialog lan monolog cukup ditulis isi utawa garis utamane
  5. Sinopsis ora kena owah saka lakune crita asli
Tuladha Cerita Cekak


Sawah

Srengenge durung katon njedul, nanging semburat abang ing sisih etan wus katon mbranang. Manuk-manuk pating bleber mangkat golek pangan ninggalke anak-anake sing isih cilik-cilik, pating cruit nguntapke lungane biyunge, kanthi pangarep-arep gek ndang mulih terus ngloloh dheweke. Mengkono uga para manungsa kang duwe pakaryan bakul menyang pasar. Padha nggendong tenggok munjung-munjung isi dagangan.
Kabeh padha ngajab, muga-muga laris, entek dagangane, mulih kari nggawa tenggok kosong lan lembaran-lembaran rupiah. Esuk kuwi, Mbah Wongso uga katon menyang sawah nggawa pacul sing disampirke ing pundhake. Tangane kiwa katon kelip-kelip amarga ing slempitane driji ana mawane, mawa rokok lintingan dhewe alias tingwe. Klempas-klempus sak dalan-dalan katon nikmat banget.
Wektu kuwi Parja lagi nyapu latar sing kebak godhong jambu.
"Mruput, Mbah! Tindak sabin?" "Genah nggawa pacul ngono, mosok arep njagong!" semaure Mbah Wongso sakkecekele. Mbah Wongso sanajan wis tuwa nanging isih seneng guyonan. Malah ana sing ngarani Mbah Gaul.
"Penjenengan niku nggih aneh, Mbah! Nek kula mboten aruh-aruh mengke diarani cah enom mboten ngerti unggah-ungguh." "Ooo...ya wis, bener Le..., la kowe gek nyapu?" "Mboten, Mbah. niki nembe dhahar!" Parjo mbales Mbah Wongso. "Dhahar gundulmu kuwi, diamput!! Kakekane...lha kok malah mbales," wong loro terus padha ngguyu.
Tekan sawah Mbah Wongso nyelehake pacule. Dheweke terus lungguh nyawang tanduran pari sing wis merkatak. Sawise ngentekke udute, Mbah Wongso terus mak nyat, ngadeg terus mbabati suket sak kiwa tengene tanduran pari. Sukete diklumpukke kanggo pakan wedhus. Udakara jam sanga esuk, Suminah anake wadon katon nggawa sarapan lan wedang teh sing ginasthel, legi panas tur kenthel. Kringet wis dleweran, weteng ya wis pating kluthuk njaluk diisi.
"Sarapan rumiyin, Pak!" "Kene nduk, wah kebeneran banget. Wetengku wis kluruk terus je!" "Wau sak derenge tindak kapurih sarapan riyin mboten purun, wong nggih sampun mateng sedanten." "Mangan kuwi paling enak ki nek wis luwe ngene kiyi!"
Mbah Wongso anggone dhahar katon dhokoh nyenengke tenan. Mula ora mokal sanajan wis sepuh isih katon gagah. Amarga olah ragane macul ora tau leren lan dhahare ya akeh tenan.
Bar dhahar terus ngunjuk benteran ginastel kalajengaken udud. Kesenengan sing keri kuwi jan-jane wis dilarang dening anake wadon. "Pak, mbok ses-ipun dipun kirangi, nek saget malah mboten sah udud mawon, cobi njenengan waos nggen bungkus rokok niku. Merokok dapat menyebabkan kanker," durung rampung wis dipunggel Mbah Wongso. "Rak dapat menyebabkan jarene Pardi wingi kae, dapat menyebabkan kuwi tegese ora mesthi, isa lara isa ora, iya ta? Jarene nek wong-wong ora udud, pabrik rokok isa bangkrut, karyawane padha nganggur, mbako ora payu, petani mbako klenger, pemerintah ora nampa pajek, jarene pajek saka rokok kuwi paling gedhe nduk? Lho, piye? Aku udud iki rak membantu pemerintah ta?" "Penjenengan niku nek diaturi mesthi ngeyel, mengke nek gerah paru-parune mang raoske piyambak!" Suminah katon mrengut.
Ora let suwe sak rampunge Mbah Wongso dhahar, saka wetan katon wong loro lanang-wadon numpak pit montor nyedhak marang lungguhe Mbah Wongso. Wong loro mau terus nyelehke heleme terus mudhun nyalami Mbah Wongso lan Suminah. "Nyuwus pirsa, ingkang nggarap sabin niki sinten, Mbah?" wong wadon mau takon marang Mbah Wongso. "Kula!" semaure Mbah Wongso. "Penjenengan nyewa saben niki dateng sinten?" "Lho, nyewa pripun. Sampeyan ampun golek perkara, niki sabin kula. Kula tumbas pun sedasa tahun kepengker! Malah wonten surate, surtipikat niku lho!" "Pak, jenenge sertifikat!" Suminah njawil bapake. "Nggih ngoten niku!" semaure Mbah Wongso. Oleh keterangan saka Mbah Wongso, wong loro lanang-wadon mau pada ulat-ulatan semu gumun.
"Sabar riyin, Mbah! Ngeten nggih, sabin niki sabin kula. Kula tumbas kalih welas tahun kepungkur. Amargi kula merantau, kula ken nggarap tiyang sing gadhah riyin, jenenge Prapto. Niki kula mboten merantau malih, kala wingi kula madosi Prapto, kabaripun Prapto malah sampun tilar donya, mula kula nglacak mriki." "Mboten saged, niki riyin nggih sawahe Prapto, ning sing numbas kula! Sampeyan mesti ajeng apus-apus!" Mbah Wongso katon arep nesu. "Ngeten mawon, kula mboten ajeng apus-apus. Benjang Sabtu dicocoke mawon sertifikate, kula tak sowan ndalem penjenengan. Nek penjenengan ragu, nyuwun dipun sekseni perangkat desa, napa sinten mawon sing ngertos babagan niki."
Dina sing dipilih kanggo rembukan wis teka. Mbah Wongso ngaturi para-para kang dianggep mangerteni babagan sertifikat lemah. Neng kono ana kanca-kancane Mbah Wongso sing umure sak barakan, sing mangerteni sejarah tanah sawahe Mbah Wongso. Ing kono uga rawuh Pak RT lan Pak RW, malah wis disiapke ponakane saka kepolisian sing nganggo preman, kanggo nyekel pawongan sing bakal apus-apus.
Ora let suwe ana mobil mlebu pekarangane Mbah Wongso. Penumpange cacah papat. Wong lanang cacah telu lan wong wadone siji. Sing loro wis dikenal Mbah Wongso, nanging sing medhun nggawa tas koper lan sing nggawa stopmap durung diwanuhi. Tibake sing nggawa tas koper pakaryane pengacara lan sing nggawa stopmap pegawai sing ngurusi sertifikat lemah.
Wong-wong mau padha rembukan gayeng nganggo bahasa Indonesia. Mbah Wongso mung domblang-domblong, ora mudheng apa sing diomongke. Ora wetara suwe sajake rembukan wis rampung. Nanging kabeh padha meneng.
"Pripun, Bu? Rak nggen kula ta sertipikat sing asli? Lha wong dituku nganggo dhuwit tenan, mbiyen tak rewangi adol sapi pirang-pirang arep diaku-aku, mesthi nggen kula sing asli," Mbah Wongso katon yakin banget. "Ngeten nggih, Mbah. Niki pun disekseni saking bapak-bapak ingkang mangertos babagan niki, babagan sertifikat, tibakipun ingkang asli menika e...e..., gadhahan kula, Mbah!" pawongan wadon mau menehi keterangan. "Pripun!!! Napa leres, Pak?" wong-wong sing pada rembugan nganggo bahasa Indonesia mau padha manthuk alon.
Nanging kanggona Mbah Wongso kaya disamber nggelap. "Pak!!! Eling, Pak! Pak..." Suminah mbengok-mbengok amarga bapake semaput.

https://catatandhian.blogspot.co.id/2013/05/contoh-crekak-crito-cekak-lan-unsur.html


Monday, 15 March 2021

TEMBANG PANGKUR

Pangerten tembang Pangkur

Tembang pangkur iku nggambarake mangsa nalika wis kliwat umur kang wus ngungkurake babagan kadonyan. Watake semangat, perwira, tegese kanthi temen anggone ngedohi hawa nepsu ing kadonyan, supaya ora ngganggu anggone urip. Atine wis menep, resik, ora gusra-grusu, lan tansah ngengenake nggibah nyedhakake mring Gusti Kang Maha Kuwasa.

Pathokan Tembang Pangkur
Tembang macapat kalebet jinising tembang tradhisional, amargi taksih ngginakake paugeran/ciri ingkang gumathok, yaiku guru gatra, guru lagu, lan guru wilangan.

  1. Guru gatra: Cacahing gatra saben satunggal pada
  2. Guru lagu : Tibaning swara ing pungkasane gatra
  3. Guru Wilangan : Cacahing wanda saben satunggal Gatra


Watak tembang Pangkur
Watake tembang Pangkur iku madhep manteb, banter, nesu. Cocok kanggo ngandharake pitutur, katresnan, crita kang nyata, lan sapiturute

Makna tembang Pangkur
Serat Wedhatama uga ngajarake tuntunan moral ing babagan nembah mring Kang Maha Kawasa. Ing kene diajarkae yen agama iku minangka cagaking urip kang luhur (agama ageming aji). Saliyane iku, ngajarake babagan pemahaman marang Gusti (tan samar pamoring sukma). Carane kanthi ngeningake cipta lan menep sinimpen ing sajroning ati (sinukmaya winahya ing asepi, sinimpen telenging kalbu). Yen bisa nggayuh kasebut, manungsa wis entuk kanugrahaning Gusti. Manungsas bisa dumunung ing alam kosong (bali alaming ngasuwung), bali ing asal-usule (mulih mula mulanira), ora mendem kahanan donya kang asipat ngereh menungsa liyane.

Pangkur saka tembung mungkur kang ateges nyingkiri hawa nepsu angkara murka. Kang dipikir tansah kepingin weweh marang sapadha-padha. Pangkur iku maksude buntut. Karangane Kanjeng Sunan Muryapada. Duwe makna gambarake mangsa nalika wis kliwat umur kang ngungkurake kadonyan, bisa ngandhaleni tumindak lan nepsu-nepsu kanga la. Kang dipikir among tembe mburine nalika sowan ing ngarsa Gusti, lan golek memanising pati.

Wos kang kamot ing tembang Pangkur (Wedhatama)

  1. Serat Wedhatama ngajarake tuntunan moral ing babagan etika pribadi minangka pamangun karakter dhiri pribadi. Ngelmu iku ngajarake supaya nampa kanthi senenging ati yen dianggep bodho (bungah ingaran cubluk) lan tetep bungah yen diina/diece (sukeng tyas yen den ina). Ing kene uga aweh pamrayoga supaya kabecikan (puruita kang patut) marang wong wicaksana kang seneng tapa brata (sarjana kang martapi), kanggo mahami ngelmu kang sejati.
  2. Ngajarake tuntunan moral minangka perangan saka pendidikan karakter ing babagan etika sosial, sabab minangka sawijining kuwajiban tumrap urip ing satengahing masyarakat. Ing kene diajarake supaya wong aja nganti tumindak kurang sopan lan santun ing pasatemon, mula bisa gawe isin (gonyak-ganyuk nglelingsemi) semono uga, aja tumindak sakarepe dhewe. Sipate, yen guneman tanpa dipikir luwih dhisik ora gelem dianggep bodho, lan seneng dialem. Wong kudu bisa empan papan (traping angganira) lan manut tatanan Negara (angger ugering keprabon).
  3. Serat Wedhatama ngajarake supaya aja tumindak kaya dene tumindake wong bodho, kang omongane ora karu-karuan lan ora tinemu nalar (ngandhar-andhar angendhukur, kandhane nora kaprah). Wong kang bodho iku seneng ongas (sombong) (anggung gumruggung) lang pengine dialem saben dina (ugunan sedina-dina). Wong kang cethek ngelmune lan ongas, wateke ketok nalika ngomong ora gelem kalah (lumuh asor kudu unggul), lan ngremehake wong liya.

Tuladha Tembang Pangkur


Paugeran kang tinemu ing tembang macapat
Laras : rasa thithingane gamelan saka swara cendhak nganti dhuwur
Laras Slendro : Laras kang nduweni titi laras cacahe 5 (1,2,3,5,6) -> (ji,ro,lu,ma,nem)
Laras Pelog : Laras kang nduwni 7 titi laras (1,2,3,4,5,6,7) -> (ji,ro,lu,pat,ma,nem,pi). 
Laras pelog kaperang dadi 2 yaiku pelog barang lan pelog bem.
Cakepan : Tetembungan utawa unen-unen kang ana ing sajroning tembang.
Cengkok : Luk-lukane utawa munggah mudhune swara kanggo nembangake tembang macapat
Titi laras : wilangan/angka kang minangka gantine swara gamelan supados beda.
Pathet yaiku ukuran cendhek lan dhuwure swara kanggo nglagokake tembang. Tuladhane pathet ing tembang macapat yaiku pelog pathet nem, pelog pathet barang, slendro pathet sanga, slendro pathet manyura, lan sapiturute.
Pedhotan yaiku pamedhote swara ing tengahing tembang ing saben larik. Pedhotan penting merga mujudake salah sijine ritme marakake tembang dadi endah, lan ngatur dawa cendhaking napas.
Basane basa Jawa anyar.
Isa ngadeg dhewe tanpa iringan gamelan.


Wednesday, 12 August 2020

PURWAKANTHI

Purwa tegese wiwitan, Kanthi tegese gandheng. Purwakanthi yaiku ukara kang ing njerone duweni ciri wanda (suku kata) utawa tembung kang meh memper utawa meh padha merga dibaleni, disrempetake, lan diruntutake wanda utawa ukara ngarep karo mburine, saengga duweni estetika kang endah. Lumrahe purwakanthi iku kamot ing tembang utawa karya sastra liyane kayata parikan, unen-unen uga bisa mapan ana ing ukara lumrah.
Jenis Purwakanti
Purwakanthi ana 3 yaiku :
Purwakanthi swara yaiku purwakanthi kang runtut ana ing swarane utawa huruf vokale. 
Tuladha:
  • Gemi setiti ngati-ati
  • Désa mawa cara, negara mawa tata
Purwakanthi sastra yaiku purwakanthi kang runtut ana ing sastrane utawa tulisan huruf konsonane.
Tuladha;
  • Kala kula kelas kalih kula kulak kolang kaling kalih kilo.
  • Tata titi tentrem kerta raharja.
Purwakanthi lumaksita utawa basa yaiku purwakanthi kang runtut ana ing tembung pungkasan saka frase utawa ukara sadurunge dibaleni kanggo dadi tembung sepisanan ing frase utawa ukara candhake. Tuladha; 
  • Bayem arda, ardané ngrusak busana
  • Jarwa pinter, pinteré satriya ing pringgondani

Tuladha Purwakanthi


Tuesday, 11 August 2020

PITUTUR LUHUR SERAT WEDHATAMA PUPUH PANGKUR

 

Pitutur Luhur asale saka tembung "Pitutur" kang tegese piwulang, piweling utawa tuntunan, lan “Luhur” kang tegese dhuwur, linuwih, unggul lan utama.

Pitutur Luhur Jawa akeh sumimpen ing maneka karya sastra wiwit saka bebasan, saloka, unen-unen, parikan, wangsalan, ila-ila utawa gugon tuhon, crita wayang, tembang lan liyane. Kabeh mau menehi piwulang becik mungguh paugeraning wong urip supaya bisa dadi manungsa kang utama lan duweni bebuden luhur.

Pada 1

Mingkar-mingkuring angkara,
akarana karenan mardi siwi,
sinawung resmining kidung,
sinuba sinukarta,
mrih kretarta pakartining ilmu luhung,
kang tumrap ing tanah Jawa,
agama ageming aji.

Tegese :

Dadi wong tuwa kang duwe niat ndhidhik putra, kudu bisa nyontoni bab kang becik, kalebu nyingkiri bab hawa nepsu angkara murka. Ndhidik putra srana tembung utawa cara kang becik, alus, endah bakal luwih bisa ditampa anak tinimbang nganggo cara utawa tembung kang kasar. Agama dadi pondhasi kang paling bakoh kanggo ndhidhik putra, yaiku klambine wong urip.

Pada 2

Jinejer ing Wedhatama,
mrih tan kemba kembenganing pambudi,
mangka nadyan tuwa pikun,
yen tan mikani rasa,
yekti sepi sepa lir sepah asamun,
samasane pakumpulan,
gonyak-ganyuk nglelingsemi.

Pitutur 2

Sanadyan wis tuwa, nanging yen ora gelem sinau bab olah rasa kayadene sepa sepah ora ana isine. Lumrahe, wong kang ora gelem sinau bab rasa, anane mung rumanga bener lan ora ngerti klirune dhewe, kalebu mung bisa tumindak grusa-grusu gawe isin. Piwulang utama diandharke lumantar Wedhatama supaya ora mlarat ngelmu, tegese supaya sugih ngelmu kudu gelem sinau, lumantar apa wae kalebu saka serat Wedhatama.

Pada 3

Nggugu karsane priyangga,
nora nganggo peparah lamun angling,
lumuh ingaran balilu,
uger guru aleman,
nanging janma ingkang wus waspadeng semu,
sinamun ing samudana,
sesadoning adu manis .

Pitutur 3

Wong iku aja senengane mung nggugu karepe lan benere dhewe, kabeh iku ana paugeran lan pranatan ora angger tanpa petung. Aja seneng mburu kepengin dialem dening liyan, jalaran lumrahe pangalembana ndadekake lali marang samubarang bab. Ciri wong kang duweni ngelmu sejati lumrahe ora ngatonake kapinteran lan kaprigelane.

Pada 4

Si pengung nora nglegewa,
sangsayarda denira cacariwis,
ngandhar-andhar angendukur,
kandhane nora kaprah,
saya elok alangka longkangipun,
si wasis waskitha ngalah,
ngalingi marang sipingging.

Pitutur 4

Wong kang akeh omongan, lumrahe ora ana isine lan uga ora rumangsa kliru, mula dingati-ati marang sakabehing pangucap. Sing diarani waskitha iku luwih ngerti marang samubarang bab, kepara malah akeh ngalah kanggo nutupi klirune liyan.

Pada 5

Mangkono ilmu kang nyata,
sanyatane mung weh reseping ati,
bungah ingaran cubluk,
sukeng tyas yen den ina,
nora kaya si punggung anggung gumunggung,
ugungan sadina dina,
aja mangkono wong urip.

 Pitutur :

Yen duwe ngelmu iku becike digunakake kanthi becik, dimen migunani lan aweh katentremaning ati.
Sinau andhap asor, nglenggana, yen mung diarani bodho utawa diina wong liya, malah didadekna pasinaon kanggo dadi luwih becik. Urip aja mung dingo pamer lan sombong ing sabendinane.

Pada 6

Uripa sapisan rusak,
nora mulur nalare ting saluwir,
kadi ta guwa kang sirung,
sinerang ing maruta,
gumarenggeng anggereng anggung gumrunggung,
pindha padhane si mudha,
prandene paksa kumaki.

 Pitutur :

Urip kang mung sepisan kudu digunakake kanthi becik, nalar lan pikirane kudu diolah supaya ngasilake tumindak kang becik. Bocah nom-noman saiki akeh kang rumangsa kumaki, kayadene gua peteng kang suwung ora ana isine, nanging sing dipenke mung adu karosan lan kegedhen kuwanen.

Pada 7

Kikisane mung sapala,
palayune ngendelken yayah wibi,
bangkit tur bangsaning luhur,
lah iya ingkang rama,
balik sira sarawungan bae durung,
mring atining tata krama,
nggon-anggon agama suci.

Pitutur

Bocah nom-noman kang ora duwe tujuan urip, lumrahe mung ngendelke drajat, pangkat, kaluhuran sarta banda donya wong tuwane. Srawunga marang wong akeh, supaya ngerti bab tata krama lan paugeraning agama suci.

Pada 8

Socaning jiwangganira,
jer katara lamun pocapan pasthi,
lumuh asor kudu unggul,
sumengah sesongaran,
yen mangkono kena ingaran katungkul,
karem ing reh kaprawiran,
nora enak iku kaki.

 Pitutur

Pangucap iku mujudake watak lan kapribaden manungsa, saka pangucap bisa dimangerteni kepriye sejatine karaktere manungsa. Wong saiki padha ora gelem kalah, mburu bener lan menange dhewe. Bocah nom-noman saiki luwih seneng nengenake kaprawiran utawa adu kanuragan.

Pada 9

Kekerane ngelmu karang,
kakarangan saking bangsaning gaib,
iku boreh paminipun,
tan rumasuk ing jasad,
Amung aneng sajabaning daging kulup,
Yen kapengkok pancabaya,
ubayane mbalenjani.

 Pitutur:

Aja gampang percaya marang barang sing katone becik, nanging jebul amung ana kulit wae, ora nganti tekan njerone. Wong kang seneng ngatonake kabecikan mung ana ing njaba utawa kulit, bisanane ora tekan njero, mula nalika ketemu bebaya lan perkara mesthi mblenjani, nglungani lan ngendhani.

Pada 10
 
Marma ing sabisa-bisa,
babasane muriha tyas basuki,
puruitaa kang patut,
lan traping angganira,
Ana uga angger ugering kaprabun,
abon aboning panembah,
kang kambah ing siang ratri.

Pitutur

Sabisa-bisane tansah ngupayakake duweni ati kang resik. Sinau lan mergurua marang wong kang pas lan uga jumbuh utawa trep karo awakmu. Rina lan wengi tansah sinau dadi wong kang gelem nurut marang paugeran lan pranataning negara.

Pada 11

Iku kaki takokena,
marang para sarjana kang martapi,
mring tapaking tepa tulus,
kawawa nahen hawa,
Wruhanira mungguh sanjataning ngelmu,
tan mesthi neng janma wreda,
tuwin muda sudra kaki.

Pitutur :

Senenga takon marang para sarjana sujana kang padha seneng sinau marang patuladhaning urip kang bener lan pener. Wong kang duweni nggelmu kuwi durung mesthi asale saka wong kang wus tuwa, bisa uga saka wong nom utawa wong kang ora sugih. Mula aja nyepelekake marang wong liya.

Pada 12

Sapantuk wahyuning Allah,
gya dumilah mangulah ngelmu bangkit,
bangkit mikat reh mangukut,
kukutaning Jiwangga,
Yen mangkono kena sinebut wong sepuh,
liring sepuh sepi hawa,
awas roroning ngatunggil.

Pitutur :

Sapa wae bisa antuk wahyuning Gusti, uger tansah gelem ngupaya lan bisa ngolah ngelmu kang ndadekake kasampurnane jiwa raga. Wong sepuh iku Pitutur wong kang wus bisa nggayuh kasampurnane ngelmu, yaiku bisa meper lan ngedohi hawa nepsu, nyawiji antarane dhiri lan Gusti.

Pada 13

Tan samar pamoring Sukma,
sinukma ya winahya ing ngasepi,
sinimpen telenging kalbu,
Pambukaning warana,
tarlen saking liyep layaping ngaluyup,
pindha pesating supena,
sumusuping rasa jati.

Pitutur

Manungsa bisa nyawiji, manunggal klawan Gusti srana lumantar semedi utawa tapa brata (ngibadah) kang tulus saka njero ati. Ngibadah kang tulus marang Gusti bisa nuwuhake rasa ayem tentrem kang sejati ing dhiri.


Pada 14

Sajatine kang mangkono,
wus kakenan nugrahaning Hyang Widi,
bali alaming ngasuwung,
tan karem karamean,
ingkang sipat wisesa winisesa wus,
mulih mula mulanira,
mulane wong anom sami.

 Pitutur :

Satemene wong kang wus kasil nyawiji klawan Gusti lumantar ngibadah iku wus antuk kanugrahaning urip kang sejati. Manungsa aja nganti gelem dikuasani lan dikendhaleni dening hawa nepsu bab kadonyan kang semune nyenengake nanging sejatine bakal ngrekasakake. Manungsa kang tansah eling marang Gusti bakal mangerteni bakale mulih bali marang asale.

apakah anda mencari RPP 1 lembar atau RPP masa pandemi? berikut contoh RPP Masa Pandemi untuk SMK Kelas XII semua mata pelajaran.

Berikut dan atau di bawah ini merupakan link download perangkat pembelajaran (RPP) masa pandemi (1 lembar) untuk SMK Kelas XII Semester Ganj...